Kamis, 26 Agustus 2010

Kebenaran Sejarah Nunusaku

Nunu Saku di maksudkan Pohon Beringin ( Buyan Tres ) . Tetapi Nunu Saku sesuai penjelasan tradisionil lebih menyerupai pohon popythea seperti jenis yang di gambarkan oleh A.R Wallace ( Malay Archipelago 1869.p.64).

”Nunu Saku ” terbentuk dari tiga kumpulan akar yang berpijak pada tepi sebuah danau; pohon bertumbuh menutupi danau. Dari tempat dimana akar akar-akar memusat menjadi satu, keluarlah air yang mengisi danau ( Waele Butui – Air dari alat kelamin laki-laki). Air dalam danau disebut : Nunu Wae Sane = satu satu air suci yang kudus yang hidup dan yang abadi. Dari danai ini air menghilang kedalam bumi dan melalui terowong didalam tanah muncul kembali sebagai mata air pada bagian hulu ketiga batang air, dan melalui ketiga batang air Eti – Tala – Sopalewa di antarnya air turun kemuara.

Pada awalya Kapua Upu ila Kahuresi menciptakan alam semesta ( ASA ) menampilkan Bapak Matahari = Upu Tahola; ibu Bumi : Upu yama ese dan pengawalnya bumi : upu ila kae = Bulan.
Selama pertumbuhan mereka dari masa kanak-kanak hingga dewasa, terjadilah bahwa sang bapa matahari menaruh hati pada ibu bumi dan sebaliknya; maka ketika sinar pertama dari bapa matahari menyentuh ibu bumi, Hamilah ibu bumi sembilan zaman lamanya sesudah genap waktunya lahirlah : ” Alif Uru ” = Manusia Awal.!

”TEMPAT KELAHIRAN TERSEBUT ADALAH NUNU SAKU ” Alif Uru minum dari air dan makan dari daun dan buah yang bertumbuh pada pohon yang suci kudus itu. Berikutnya bertambah banyaklah manusia awal ( wanita pertama keluar dari pohon pisang dan bambu). kemudian mereka diawali oleh empat kepala; tiga diantaranya melambangkan masing-masing : Nafsu, Jiwa, rasa dan ratio di dalam manusia yang saling bertentangan yang satu terhadap yang lain dan sebaliknya.
Ai Ukene (Lisabata)
  1. Latu teru ijele hena ponie = Betul di negeri dulu ada tiga raja
  2. Si Ambamuwe nunu jela lehui = Semua keluar di baringin besar
  3. Ni sama ini waele senu waele = ini air besar semua sama saja
  4. Si amanu pakea ni pakeana = Kasih hanyut ini pakaian- pakaian
  5. Ama kai latu uhu inai = Nanti saja harus naik jadi raja
  6. Sine Nua latu nuhu selane = Dua raja ini punya kuasa sama
  7. Nuhu selane nete naru penusi = Kuasanya sama tetapi hatinya tidak betul
  8. Si manahu mambuasa = Lain kasih jatuh lain
  9. Lembea one Welea = Adu kekuatan di dalam air
Karena faktanya ketiga latu tidak mampu hidup bersama secararukun dan harmonis, maka dengan demikian mereka telah melanggar hukum : ” Persekutuan Awal ” yang telah ditegakkan oleh moyang moyang mereka sebagai : hukum ” Sirih Pinang ” ( Sirih, kapur, pinang, tembakau, dan cengkeh ).
Hukum yang telah diatur dalam persekutuan ini ialah : ” Kita semua satu dari satu tubuh dengan ” Kapua Upu Ila Kahuressi ” sebagai kepala dan ” totalitas” Maka kepala yang keempat yang melambangkan ” Kuasa Roh ” dalam manusia memerintahkan ketiga kepala untuk pergi dari lokasi Nunu Saku dan menjelajah bumi, Masing-masing mereka dengan kelompok yang berada di bawah pimpinan mereka. Dijanjikan kepada mereka bahwa Kapitan Besar akanmengatar mereka kembali untuk memperbaharui persekutuan awal; Menegakkan kembali hukum ” Sirih Pinang ” dan menyatukan mereka kembali ketiga Latu kembali ke gunung Fah ( di Ulate Inai ) untuk memperbaharui persekutuan awal karena Uru telah melupakannya, Maka sejak itu mereka di berikan nama ” Hara Fah Uru ” atau ” Harafuru ” yang arinya : URU DARI GUNUNG FAH. ( seperti zaman sekarang jelas masih dalam Peta laut harafuru atau di sebut arafuru atau laut alifuru atau Laut Arafuru ).
  1. AI UKENE ( Nomali = Huelehu) = (Pesan) Ama – Ina untuk uru didalam ini ( Bomali- Nuwelehu)
  2. Manu Tula potike sapalene = Roh dari langit diraih oleh upu yang datang bertemu dengan kau dialam ini
  3. Rutu keku Nunusaku retui = Uru kalau dinunusaku baiknya pakai rutu-rutu
  4. Kaha ketu waele teru, waele = Pergilah sampai keatas sampai keair besar – Tiga air besar
  5. Sapawela surikamba-lesi = Sapawela yang menyapu bersih pada pandangan pertama seperti uli mengamati dan membela
  6. Waele eti moni tihu mitene = Air besar eti bagaikan imam besar yang menegakkan hukum
  7. Waele tala tahi sane samane = Air besar tala yang menghasilkan satu tubuh yang kekal dan paling berharga
  8. Runa essi patia teru, one walea joo! = Anak uru kuasa terbagi tiga langgar air yoo!
  9. Runa essi latua teru = Anak uru kuasa dari Allah tua benar tiga.
Kemudian persekutuan ditegakkan kembali ” Sesudah mana kembali mereka turun lewat batang – batang air kini sebagai manusia dari gunung Fah untuk melaksanakan Hukum : Heka – Leka sampai Kapitan Besar Riri Ama ( Bapa Hakim ) mengantar mereka kembali ke Nunu Saku untuk selama-lamanya.
  1. Turu lau haha ika kau e yami = itu orang jauh didaratan tinggi seperti kita juga
  2. Hale nusa opono lease e yami = kita semua disebelahnya pulau ambon dan lease
  3. Uling enye liasa manima = Satu kali potong tali putus ( dan ) gasepa terguling lepas
  4. Nasi totol lema urie = Bermain hanyut menyesakkan nafas
  5. Biang huta kamu kamu mouputi = Biang kamu kamu (menutup) permukaan dan tubuh. Menjadikan kita putih( agar tidak terlihat oleh orang lain)
  6. Riri ama tutu hena sepa o = riri ama tegakan negeri asli o!
  7. Riri ama kwae hena sepa o = riri ama cari negeri asli o
Demikian Nunu Saku adalah tempat dari pada awal kemana URU di dalam alam semesta akan di hentar kembali setelah dia memenuhi hukum ” Leka ” dan dipesankan bahwa hanya URU yang telah dilahirkan Baru ” LEKA ” – URU yang telah menyatu dengan alam semesta dapat menemui dan melihat NUNUSAKU
Nunu Saku = Unu Nusa Asa Ku = Bagian pulau dimana ku menjadi satu dengan Asa yang tunggal.
” KERANGKA DASAR SIWA-LIMA “
URU LELAKI DAN MATAHARI TERBIT
Supaya lebih dekat pada POLA PEMIKIRAN SIWA LIMA pendekatan ini mengusahaakan mengikuti jejak-jejak para pemburu Pola Dasar Siwa Lima milik mereka sendiri, ditegaskan demikian oleh salah satu dari pada yang memangkunya. Totalitas berasal dan menyeluruh ASA secara fungsionil di divensiasikan serta bertumbuh di dalam diversifikasi menuju sublemasi kembali ke asal, dengan integrasi sebagai suatu konstant.
Kerangka dasar SIWA LIMA sebagaimana dikatakan sebagai Multi Dimensional Spiritual, Mental maupun Pisikal. Pengertian dari pada totalitas Sangatlah berharga sebagai suatu konsep fundamental. Manusia ( Tubuh) adalah model (Kerangka Dasar) untuk totalitas, akana tetapi juga untuk pembidangan diferensiasi dan difersifikasi fungsional yang mengikuti suatu peraturan khusus. Urutan ini tidak hirarki tetapi terikat pada senioritas ( Ketuaan ) dari pada lambag yang diwakili setiap pembidanan/diferensiasi.

Keempat dasar fungsi utama adalah symetrical serta menyatu kembali bersama kedalam totalitas.
Andaikata di bandingkan pendekatan ini di dalam bahasa cinematografi, maka subjek tersebut dipandang terlebih dahulu dari pada sudut lebar. Berikut dari urutan peneropongan “ Close “. Close up ini mengikuti urutan simbolik dari pada senioritas setiap masalah bersangkutan ( seperti akan di ekspose : urutan senioritas ini adalah variabel).
Mitos menempatkan asal dari pada manusia sebagai pola pemikiran di pusat pegunungan di tengah dan bagian barat dari pulau Seram di Maluku Tengah.
Selama berabad abad mereka meluas dan menempatkan dirinya di pulau pulau sekitar : Buano, Kelang, Manipa, Buru, Ambon dan Uliase ( Haruku, Saparua, Nusalaut )dimana mereka masih menetap sampai dengan sekarang ini.
Sesuai sejarah setempat, generasi-generasi yang mengatur migrasi tersebut telah berlangsung sejak 3000 tahun sebelum masehi.

(Di ambil dari buku "URU SON OF THE SUNRISE")  Fric University of Brussels, tahun 1984.

Minggu, 22 Agustus 2010

Asal Usul Negeri Porto dan Nenek Moyang Talakua

Oleh : Marleen Rolette Talakua/Tuhusula. MTh

           Masyarakat Porto memahami bahwa nenek moyang mereka yang pertama, berasal dari pulau Seram, dari Nunusaku (gunung suci di pulau Seram), maka asal ususl negeri Porto dan nenek moyang Talakua diceriterakan sebagai berikut  :

"....bahwa pada waktu penduduk mulai menyebar mencari tempat-tempat yang lain mereka dipimpin oleh empat orang kapitan, yaitu : Kapitan Wattimena Wael (yang nantinya menjadi moyang Wattimena di Makariki), Kapitan Wattimury (yang kemudian menjadi moyang Wattimury), Kapitan Nanlohy (yang kemudian menjadi moyang Nanlohy) dan Kapitan Talakua (yang kemudian menjadi moyang Talakua). Mereka bermusyawarah untuk menyepakati tujuan dan arah pengembaraan mereka  dan mereka sepakat untuk menghilir sepanjang sungai Tala. Tiba di Tala, mereka membuat suatu perjanjian dengan menanam sebuah batu yang dinamakan Manuhuru yang kemudian berubah menjadi Huse. Perjanjian yang mereka ikrarkan adalah : "Walaupun mereka nanti bercerai-berai, tetapi hubungan persaudaraan ini harus terus dipertahankan dan merekapun harus saling tolong-menolong". Tempat ini kemudian menjadi suatu batu pertanda tempat kenang-kenangan dari keturunan negeri Makariki, Amahai, Luhu dan Porto. Beberapa hari kemudian Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua naik keatas rakit untuk bermain-main, tetapi rakit terbawa arus dan hanyut semakin jauh ke tengah laut. Mereka terdampar di suatu tempat bernama Nanuluhu dan Kapitan Nanlohy tertinggal di situ sedangkan Kapitan Talakua terus hanyut melewati Tanjung Umelputty (sekarang dekat desa Kulur) dan akhirnya terdampar di suatu teluk di pulau yang kemudian dinamakan pulau Saparua. Sampai sekarang orang meyakini bahwa sepasang tapak kaki yang tertinggal di Wasa dekat tanjung Umelputty adalah tapak kaki Kapitan Talakua yang pertama singgah di situ. Tetapi kemudian karena ingin mencari tempat tinggal yang aman atau kecendrungan untuk dekat dengan para leluhur (sesuai kepercayaan asli)  maka dibangunlah suatu Hena atau Aman di gunung Opal. Lama setelah itu Kapitan Nanlohy juga ikut terdampar  kesitu dan menurut hikayat Talakua,[1] ketika Kapitan Talakua melihat Kapitan Nanlohy berenang dekat tanjung itu, Kapitan Talakua mengambil sebatang galah untuk menolong Kapitan Nanlohy naik kedarat. Karena itu dalam sejarah pembentukan negeri Porto, Talakua dan Nanlohy mempunyai negeri lama yang sama yaitu di gunung Opal. [2] Selain proses migrasi dari pulau Seram kemudian berdatangan lagi orang-orang dari Maluku Utara, Irian Jaya, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, mereka lalu  berkelompok membuat kediaman di pegunungan.

             Kecendrungan mencari tempat-tempat yang aman dan dekat dengan para leluhur sesuai keyakinan mereka itulah yang menyebabkan terbentuklah pemukiman-pemukiman penduduk di pegunungan. Mereka berkelompok dalam persekutuan-persekutuan yang  disebut Rumahtau atau Lumatau yang terbentuk dalam ikatan genealogis. Rumatau-rumahtau ini kemudian menggabungkan diri dalam suatu persekutuan yang disebut hena atau aman dan menempati lokasi-lokasi tertentu yang dipimpin oleh Ama. Aman berasal dari istilah pribumi ama yang artinya bapa atau tuan. Dengan demikian Aman adalah pemukiman yang dimiliki dan diperintah oleh Ama. Lokasi atau wilayah hunian inilah yang kemudian dikenal dengan nama negeri lama.

           Negeri lama-negeri lama di pegunungan yang dihuni oleh para leluhur masyarakat Porto adalah sebagai berikut :
Opal    : Opal adalah daerah pegunungan yang tertinggi dalam wilayah petuanan desa Porto. Negeri lama ini ditempati oleh Talakua dengan mengambil posisi sebelah depan (arah Timur) menghadap ke Saparua, dan Nanlohy yang menempati wilayah Opal bagian belakang (arah Barat) menghadap ke pantai. Talakua dan Nanlohy menempati negeri lama yang sama, sebab menurut cerita rakyat,[ 3] keduanya berasal dari Seram. (lihat asal-usul negeri Porto di hal. 68). Mungkinkah karena itu Talakua dan Nanlohy mempunyai Soa yang sama yaitu Soa Lesiruhu dan menjadi Soa Raja.
Selain Opal, juga ada negeri lama dari para leluhur yang lain seperti :
  1. Amahoru    : Negeri lama ini ditempati oleh Latuihamalo, dan kemudian menjadi Soa  Muarea.
  2. Sawahil      : Negeri lama ini ditempati oleh Polnaya, dan kemudian menjadi Soa Ulalesi.
  3. Tahuku       : Nageri lama ini ditempati oleh Sahertian, dan kemudian menjadi Soa Latarisa
  4. Latehuru     : Negeri lama ini ditempati oleh Wattimury, dan kemudian menjadi Soa Namasina
  5. Samonyo    : Negeri lama ini ditempati oleh Tetelepta, dan kemudian menjadi Soa Muahatalea
  6. Amatawari : Negeri lama ini ditempati oleh Berhitu, dan kemudian menjadi Soa Beinusa. Dalam cerita  asal usul bangsa Maluku. [4] dikatakan bahwa, Berhitu adalah orang Ameth ditempatkan di Porto (negeri lama) atas jasanya yang telah membantu Porto(kapitan Talakua), untuk berperang melawan Johor. Menurut cerita itu, dikatakan bahwa, karena itulah Porto diberi nama menurut negeri Ameth, yaitu  Samasuru.
  7. Louwunyo  : Negeri lama ini ditempati oleh Aponno, dan kemudian menjadi Soa Lohinusa.
Pusat pemerintahan negeri lama-negeri lama ini ada di pegunungan Opal, di mana raja yang memerintah pada waktu itu adalah Talakua (yang digelar raja hutan). Struktur pemerintahan di gunung atau di negeri lama bersifat tradisional, tetapi unsur demokrasi sangat jelas terlihat dengan adanya pembagian kerja dalam struktur pemerintahan itu, seperti, ada pembagian peran raja, kapitan, mauweng, dan marinyo.Stuktur masyarakat juga sangat teratur seperti, rumatau, uku, hena atau aman, dan uli.

            Pembentukan hena atau aman ini juga terjadi dalam perebutan kekuasaan di wilayah pegunungan tetapi diceriterakan bahwa kemudian di wilayah pegunungan itu, terdapat persekutuan yang lebih besar yang disebut Uli Poru Amarima dan kemudian menjadi Ama Poruto.[5] Dari sinilah kita mengerti bahwa nama asli negeri Porto adalah Poru yang artinya menarik hati. Uli adalah gabungan beberapa hena atau aman, sedangkan Amarima artinya lima aman atau lima kampung, yang dipimpin oleh Kapitan Talakua, yang menjadi penguasa di Gunung Opal. Hal ini sejalan dengan apa yang ceriterakan oleh Sitaniapessy,[6]  bahwa : di akhir abad-13 dan awal abad-14, sudah ada penduduk Poru yang berkuasa di pegunungan Porto (nama Porto diberikan kemudian). Diceriterakan  bahwa, ketika Johor tiba di Saparua, tidak ada satu negeri pun yang berani berperang dengan Johor dan yang berani angkat senjata melawan Johor adalah Poru atau Porto. Kekuasaan Poru bahkan menjadi salah satu pertahanan kuat di gunung Opal dan di zaman Portugis dan Belanda, wilayah ini tidak tersentuh sama sekali. Selain perang Iha dan perang Pattimura, ada juga satu pusat pertahanan yang kuat dan tidak pernah dapat dikuasai oleh penjajah yaitu di Uli Poru Amarima.

           Selanjutnya guna memudahkan kompeni dalam politik perdagangan dan pengawasan, maka sejak masa Portugis, telah dimulai suatu kebijaksanaan untuk menurunkan penduduk dari pemukiman awal dipegunungan, ke tempat-tempat pemukiman baru di daerah pantai.[7] Proses pemindahan ini dicatat di zaman penjajahan Belanda atau VOC, membawa pula perubahan-perubahan yang luas dan penting dalam susunan masyarakat. Struktur masyarakat yang berpusat pada hena dan aman, kemudian menjadi  masyarakat negeri Porto di pantai. Cooley, dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa, proses perpindahan itulah yang menyebabkan terbentuknya negeri-negeri di pesisir pantai yang terjadi antara tahun 1480-1660.[8] Ketika negeri terbentuk maka istilah hena dan aman tidak digunakan lagi dan selanjutnya dipakai istilah matarumah (untuk marga dalam keturunan genealogis), soa (persekutuan dari beberapa matarumah yang bukan lagi persekutuan genealogis tetapi persekutuan teritorial) dan negeri (gabungan beberapa soa dalam wilayah tertentu).

           Mengenai perpindahan penduduk Lease dari gunung ke tepi pantai di Saparua, Maryam Lestaluhu, dalam buku hasil penelitiannya mengatakan bahwa, nanti setelah jatuhnya Kapahaha dalam tahun1645, Gubernur Demmer mulai mengarahkan perhatiannya ke Iha (kerajaan Iha).[9] Dalam tahun 1647 setelah pergolakan di jazirah Hitu (pulau Ambon) dapat diatasi, Gubernur Demmer menginstruksikan kepada penguasa Iha supaya rakyatnya disuruh turun berdiam di tepi pantai. Memang kapan persisnya pembentukan negeri Porto tidak mudah untuk  diketahui, tetapi dengan mengacu pada beberapa sumber di atas, dapat diperkirakan bahwa perpindahan penduduk Porto dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai (negeri Porto sekarang) terjadi menjelang abad ke-17 (kurang lebih 300 tahun yang lalu).  Perpindahan ini terjadi atas keinginan dan kemauan VOC yang adalah alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, maka arus perpindahan itu juga tidak terjadi secara serentak tetapi bertahap karena ada penduduk yang tidak mau turun dan tetap bertahan (mempertahankan kekuasaannya) di pegunungan atau negeri lama.

           Bagi masyarakat Porto, perpindahan penduduk dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai terjadi dalam dua tahap yang disebut Uku Toru dan Uku Rima. Uku Toru adalah kelompok tiga yang turun lebih dulu ke negeri di pantai yaitu : Nanlohy, Sahertian dan Polnaya sedangkan, Uku Rima adalah kelompok lima yang turun kemudian, yaitu : Latuihamallo, Tetelepta, Wattimury, Berhitu dan Aponno.[10] Walaupun demikian, masih ada yang tetap bertahan di hutan atau pegunungan dan tidak ikut dalam arus perpindahan itu, yaitu Talakua yang tidak bersedia untuk menyerah kepada Belanda. Karena itu Talakua diberi gelar raja utang atau Namasina. Sedangkan di pemukiman baru, pemerintah kolonial Belanda mengangkat Nanlohy menjadi raja dinegeri yang baru, dan diberi gelar Raja pantai atau Nikisina. Sejak itulah negeri yang baru itu diberi nama Poruto (dari Poru atau Amaporuto)  dan kemudian berubah menjadi Porto. Porto disebut juga Sama Suru Amalatu Poru Amarima.[11] Nama ini mengingatkan masyarakat negeri Porto tentang sejarah pembentukan negeri sejak bermukim di pegunungan atau negeri lama, sampai menempati wilayah pemukiman baru di tepi pantai sampai sekarang.

[1]  http:/www.angelfire.com/home/SAPAPORTO/Talakua/htm
[2]  Aneke Sumarauw, Cerita Rakyat dari Maluku, Jakarta: Grasindo, 1944, hlm. 21
[3]  Aneke Sumarauw, Cerita Rakyat...,opcit. hlm. 21
[4]  J. Sitaniapessy, Asal Bangsa Maluku (dituturkan oleh Tete Mong dan Tete Diang kepadacucu J. Sitaniapessy), Ameth: Juni 1929, hlm. 21
[5]  Wawancara dengan Drs. Zeth. D. Talakua(sesepuh masyarakat Porto di kota Ambon) pada tanggal 10 Oktober 2007
[6]  Sitaniapessy, Asal Bangsa Maluku..., opcit. hlm. 12
[7]  Pattikaihatu, Sejarah Terbentuknya..., opcit, hlm. 14
[8]  Cooley, Mimbardan...,opcit, hlm. 224
[9]  Maryam Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam terhadap Imperialisme di DaerahMaluku, Bandung: P.T  Al-Maarif,1988, hlm. 216 (Bandingkan Sejarah Negeri Ulath, Dari gunung turun ke pantai)
[10]  Wawancara dengan bp Jou Aponno, JouWattimurry dan Jou Tetelepta (Kepala Soa yang digelar Jou) di Porto padatanggal 25 Juni 2007
[11]  Wawancara dengan Drs. Zeth Talakua (sesepuhmasyarakat Porto di kota Ambon) pada tanggal 10 Oktober 2007

Selasa, 17 Agustus 2010

LEGENDA EMPAT KAPITAN dari NUNUSAKU

LEGENDA EMPAT KAPITAN dari NUNUSAKU
Daerah Nunusaku, dahulu kala merupakan pusat kegiatan pulau Seram, yang biasa juga disebut Nusa Ina. Penduduk pulau tersebut mulai tersebar ke tempat-tempat lain yang dipimpin oleh empat orang kapitan. Mereka berempat bermusyawarah untuk menyepakati tujuan arah pengembaraannya. Sasaran mereka yaitu akan menghilir sepanjang sungai Tala, sebab sungai ini memiliki banyak kekayaan.

Perbekalan dan persiapan dalam perjalanan disiapkan dengan cepat. Sebagaimana biasa, upacara adatpun dilakukan sebelum perjalanan dimulai, yaitu dengan jalan kaki ke negeri Watui.

Sesampai di negeri Watui, mereka mulai membuat sebuah rakit (gusepa) yang di buat dari batang dan bilah-bilah bambu. Rakit ini dipakai untuk menghilir sungai Tala. Sungai ini terkenal dengan keganasannya, airnya sangat deras dan terdapat banyak batu-batu besar di sepanjang alirannya.

Pelayaran pun dimulai dan sebagai pimpinannya adalah Kapitan Nunusaku, yang merupakan Kapitan besar turunan moyang Patola. Moyang inilah yang menjadi moyang dari mata rumah Wattimena Wael di Mahariki. Harta milik Kapitan Nunusaku dibawanya semua, tidak lupa pula seekor burung nuri atau burung kasturi raja. Selain itu juga dibawanya sebuah pinang putih yang diletakkan dalam tempat sirih pinang.

Di belakang kemudi duduk kapitan yang akan menjadi moyang dari mata rumah Wattimury. Di tengah rakit adalah kapitan yang akan menjadi moyang Nanlohy. Di belakang sebelah kanan duduk kapitan yang akan menjadi moyang Talakua. Untuk menjaga harta milik mereka ditunjuk Kapitan Nanlohy. Di dalam hukum adat, ia bertindak sebagai seorang Dati yang akan menentukan pembagian-pembagian, baik milik pribadi maupun milik bersama. Oleh sebab itu, maka semua harta milik dan pembekalan diletakkan di tengah rakit berdekatan dengan Kapitan Nanlohy.

Rakit melaju karena kekuatan air yang mengalir turun menuju Tala. Namun ketika tiba di tempat yang bernama Batu Pamali, rakit mereka kandas dan hampir terbalik. Kapitan Wattimena Wael terkejut dan berteriak kepada kapitan yang berada di dekatnya. "Talakuang!!" Yang artinya ''tikam tahan gusepa'' Dan kapitan yang mendapat perintah tersebut dinamakan ''Talakua'' yang kemudian menjadi moyang dari mata rumah Talakua di negeri Porto hingga sekarang.

Ketika rakit hampir berbalik, saat itu Kapitan Wattimena tengah membuka tempat sirih pinangnya menjadi terjatuh. Pada saat yang sama burung nurinya pun terbang. Kejadian ini sangat mengecewakan kapitan yang langsung terucap menikrarkan sumpah hingga merupakan pantangan bagi mata rumah Wattimena Wael. Bunyi sumpah tersebut, bahwa turun temurun mata rumah Wattimena Wael dan para menantu tak boleh memelihara burung nuri dan memakan sirih pinang. Kemudian yang berada di sungai tersebut dinamakan Batu Pamali hingga sekarang.

Perjalanan pun dilanjutkan dan akhirnya mereka tiba di Tala. Di tempat itu mereka membuat suatu perjanjian dengan menanam sebuah batu perjanjian, yang kemudian dinamakan Manuhurui, lalu berubah menjadi Huse. Perjanjian yang mereka ikrarkan ialah walaupun mereka nanti bercerai berai, hubungan persaudaraan yang terbina selama ini haruslah dipertahankan.

Selain itu pula, mereka harus saling tolong menolong dalam segala hal, kunjung-mengunjungi satu dengan yang lain. Tempat ini kemudian menjadi suatu batu pertanda tempat kenang-kenangan dari keturunan negeri Mahariki, Amahai, Luhu dan Porto.

Setelah proses perjanjian selesai, Kapitan Wattimena dan Kapitan Wattimury beristirahat tidur. Sementara itu Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua naik ke atas rakit. Tiba-tiba rakit itu terbawa arus dan hanyut, Kapitan Wattimena dan Kapitan Wattimury yang terbangun dari tidurnya melihat rakit itu hanyut yang semakin ke tengah laut hanya bisa melambaikan tangannya.

Rakit yang membawa Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua terkatung-katung di Tanjung Hualoi. Mereka hanya bisa membalas lambaian tangan kedua kapitan yang berada di darat. Mereka tak bisa membawa rakitnya menepi. Kapitan Nanlohy meloncat dan berenang melawan arus. Tapi naas, karena letih dan kecapaian akhirnya ia terdampar di tempat yang bernama Nanaluhu, yang berarti ''berenang dan terdampar di hulu'.

Sementara itu, Kapitan Talakua terus hanyut berbawa arus hingga melewati Tanjung Uneputty. Pelayaran yang hanyut itu akhirnya terdampar juga pada suatu teluk di pulau Saparua. Dimana dibangunnya negeri yang diberi nama Porto. Hal itu didengar oleh Kapitan Nanlohy dan ia pun pindah dari Luhu ke Porto untuk hidup bersama dan mengembangkan keturunannya menjadi satu mata rumah yang besar.

Kapitan Wattimena Wael dan Kapitan Wattimury yang tetap tinggal di daerah Manuhurui di kampung Sanuhu, banyak mempunyai sahabat. Antara lain Kapitan kampung tersebut. Kapitan itu kemudian dijadikan pengintai oleh Kapitan Wattimena Wael.
 
(Diambil dari Cerita Rakyat Maluku) 

Silsilah Keluarga Talakua, dari garis keturunan Ojang Martinus Talakua

Silsilah keluarga Talakua, dari garis keturunan Ojang Martinus Talakua (Gelaran : Inu Gila) di Porto, Saparua - Maluku Tengah. 
Martinus Talakua (Alm) memilik 4 orang anak Perempuan dan 2 orang anak Laki-laki : Lukas Talakua dan Colodus Wattimury

Lukas Talakua Menikah dengan Petrosina Appono, dan memiliki 6 orang Anak Laki-laki, 2 orang anak Perempuan dan 20 orang cucu  : 
  1. Paulina Talakua  Menikah dengan Arames Selanno, dan memiliki 4 orang anak perempuan : Vivi Selanno, Marlen Selanno, Marcella Selanno,Tasya Selanno. 
  2. Martinus Talakua (Alm)  Menikah Fransina Tetelepta, dan memiliki 3 orang Anak Laki-laki : Victor Talakua, Marvi Talakua, Erick Talakua.
  3. Agustinus Talakua  Menikah dengan Adriana Loupatty, dan memiliki 3 orang Anak : Rolette Marleen Talakua, Dominggus Talakua, Yunita Talakua.
  4. Dominggus Talakua  Menikah dengan Marleen Rollete Tuhusula, dan memiliki 1 orang anak Laki-laki ganteng dan 1 orang anak Perempuan  :  Gerhard Talakua, Theofilia Petrolena Talakua.
  5. Matheos Talakua  Menikah dengan Rosina Manuputty, dan memiliki 5 orang anak Laki-laki  : Yani Talakua, Masaro Lukas Talakua, Billy Talakua, Martinus Sillo Talakua, Menoha Christopher Talakua. 
  6. Yacob Talakua Menikah dengan Fridanelmy Gareja, dan memiliki 1 orang anak Perempuan : Jeane Fransina Diana Talakua
  7. Maria Talakua  Menikah dengan Toncy Paais, dan memiliki 2 orang Anak : Flourence Talakua dan Gilbert Paais
  8. Deminikus Talakua  (Belum Menikah) 
Colodus Wattimury (Alm) memiliki 3 orang anak Laki-laki dan 1 orang Anak Perempuan  :
  1. Stevie Wattimury.
  2. Andre Wattimury.
  3. Robby Wattimury.
  4. Lina Wattimury.
NB   :
  • Ojang Martinus Talakua (Alm) bersama ke-4 anak Perempuannya keluar dari Porto-Maluku Tengah pergi ke Pulau Bacan-Maluku Utara, dan melanjutkan hidupnya disana, sampai mengakhiri masa hidupnya di Pulau Bacan. 
  • Opa Colodus (Alm), arkhen dari marga Talakua ke marga Wattimury. 
  • Data dan daftar nama mengenai anak-anak perempuan dari Ojang Martinus Talakua (Alm)  yang di Pulau Bacan untuk sementara masih belum ada. 
  • Anak dari Paulina Talakua dan Arames Selanno (Vivi Selanno, Marlen Selanno, Marcella Selanno, Tasya Selanno) Sudah Menikah. Tentang suami dan anak-anak, untuk sementara masih belum ada data (Lupa).
    • Anak dari Martinus Talakua (Alm) dan Fransina Tetelepta (Victor Talakua) Sudah Menikah. Victor Talakua Menikah dengan Olivia Mahulette, dan mimiliki seorang anak Perempuan : Valecia Talakua.
     

    Silsilah Keluarga Tuhusula dari Keturunan Hendrik Tuhusula (Alm) dan Agustina Mahulette (Alm)

    Silsilah Keluarga Tuhusula dari Keturunan Ojang Henrik Tuhusula dan Ojang Agustina Mahulette, di Waimahu-Latuhalat. (Ojang Tom "Om" dan Ojang Atu)
    Henrik Tuhusula (Alm) dan Agustina Mahulette (Alm) memiliki dua orang Anak : Allexander Tuhusula dan Willem Joseph Tuhusula. 
    Alexander Tuhusula Menikah dengan Nona Latupeirissa (Alm), dan memiliki 3 orang anak Laki-laki, 4 orang anak perempuan dan 6 orang Cucu :  
    1. Helena Tuhusula
    2. Rita Tuhusula
    3. John Victor Tuhusula (Alm)
    4. Roy Tuhusula
    5. Fanny Tuhusula
    6. Paulus Tuhusula
    7. Lenda Tuhusula
    Willem Joseph Tuhusula (Alm) Menikah dengan Helena Salamor , dan memiliki 4 orang anak Perempuan, 2 anak Laki-laki dan 13 orang cucu :
    1. Marleen Rolette Tuhusula  Menikah dengan Dominggus Talakua, dan memiliki 2 orang Anak :  Gerhard Talakua dan Theofilia Petrolena Talakua.
    2. Joice Tuhusula  Menikah dengan Jan Lekatompessy, dan memiliki 1 orang Anak : Engelberth Lekatompessy.
    3. Ana Luciana Tuhusula  Menikah dengan Nick Oppier, dan memiliki 2 orang Anak : Clif Oppier dan Jona Oppier. 
    4. Ricard Tuhusula  Menikah dengan Ana Juliana Ambrahams, dan memiliki 4 orang Anak : Riana Aprilia Tuhusula, Sthesa Agustine Tuhusula, Wicko Rino Glory Tuhusula, Joy Viola Tuhusula.
    5. Flourence Tuhusula  Menikah dengan Jefryson Lekatompessy (Alm) dan memiliki 2 orang anak : Gracia Virelia Lekatompessy dan Heldy Lekatompessy
    6. Henry Tuhusula  Menikah dengan Adelina Sahuburua, dan memiliki 2 orang Anak : Samuel Willy Tuhusula dan Josua Leandro Tuhusula. 




      Senin, 16 Agustus 2010

      Sejarah Negeri Latuhalat, dan Marga Tuhusula di Soapapala (Waimahu)

      SEJARAH TERBENTUKNYA NEGERI LATUHALAT

      Dahulu negeri-negeri di semenanjung Nusaniwe Pulau Ambon berada dalam suatu persekutuan yang disebut Uli Nusaniwe. Uli ini dipimpin oleh seorang raja bergelar Lopulalan. Selain raja Lopulalan terdapat juga pemimimpin lain dalam Uli Nusaniwe sehingga membentuk Pemerintahan Empat Perdana Nusaniwe dengan Uku/Soa (kampung) yang dipimpinnya sebagai berikut :
      1.Ukuhener di sekitar bukit Amanila dipimpin oleh seorang Raja dari Tuban bergelar Lopulalan
      2.Ukuhuri di sekitar labuhan Namalatu dipimpin Orang Kaya dari Seram bergelar Latuhalat
      3.Seilale di sekitar dataran Namasula dipimpin oleh seorang Patih dari Gorom bergelar Pattinai
      4.Soapapala di sekitar tanjung Nusaniwe dipimpin seorang Kapitan dari Luhu bergelar Risakotta.
      Ketika Imperialisme barat menanamkan kekuasaanya di Ambon, kekuasan Lopulalan sebagai penguasa Uli Nusaniwe mulai melemah dan negeri-negeri bawahannya mulai melepaskan diri membentuk pemerintahan otonom. Negeri Seilale melepaskan diri dan membentuk negeri Seilale dipimpin oleh Raja Loppies (nama baptis Pattinai) dengan gelar Upu Latu pattinaelai. Sedangkan Ukuhuri dan Soapapala (sekarang : Waimahu, ) membentuk suatu pemerintahan dalam negeri Latuhalat dipimpin oleh Raja Salhuteru (nama sebenarnya Latuhalat) dengan gelar Upu Latu Jorusana. Meskipun demikian Seilale dan Ukuhuri-Soapapala tetap berada dalam suatu petuanan yang lazim disebut petuanan Silalatu [Hal ini dilatarbelakangi Cerita Kenari Bongko]. Dengan terbentuknya negeri Seilale dan Latuhalat, maka negeri Nusaniwe hanya meliputi Ukuhener ( sekarang : Airlouw), Erie dan sebuah kampung kecil di selatan yang disebut Hatiari (=Pintu Kota) dipimpin oleh Raja de Soiza (nama baptis Lopulalan) dengan gelar Upu Latu Waihenna.

      LATUHALAT, RAJA DIBAGIAN BARAT

      Latuhalat (Vorst van westen, “ Raja di bagian Barat ”) adalah gelar yang dipakai oleh Upu Latu Jorusana dalam menjalankan pemerintahan pada negeri Ukuhuri - Soapapala. Nama sebenarnya raja ini adalah Lasanteru (= Tiga insan) yang kemudian berubah menjadi Salhuteru. Nama Latuhalat pada dasarnya mengacu pada letak negeri ini yakni pada ujung barat jazirah Leitimor. Pada masa kejayaan negeri Nusaniwe di jazirah Leitimor, raja Latuhalat berada dibawah pengaruh negeri ini dan hanya berkuasa sebagai orang kaya (gelar pemimpin) pada sebuah perkampungan (uku) yang disebut Ukuhuri (= Kampung tandus). Raja Latuhalat berdiam di perbukitan sekitar pantai Namalatu yang disebut Sama Tohi. Selama masa pemerintahannya di Ukuhuri, raja Latuhalat menjalin hubungan kekerabatan (sejenis Pela) dengan Raja Lopulalan di negeri Ukuhener (Nusaniwe). Ukuhuri mewakili unsur perempuan sedangkan Ukuhener mewakili unsur lelaki [Hubungan ini terbentuk jauh sebelum adanya Pela Latuhalat–Allang, dan Nusaniwe – Hatiwe besar]. Dengan melemahnya kekuasaan Nusaniwe, kampung Ukuhuri dan soapapala bergabung dan diperintah oleh raja Latuhalat. Kampung (soa) Papala sebelumnya dikuasai oleh seorang kapitan dari Luhu bernama Lisakotta atau Risakota. Ketenaran dan kesaktian raja Latuhalat di jazirah Leitimor pada masa itu menyebabkan namanya sangat terkenal sehingga negeri Ukuhuri -Papala yang dipimpinnnya sering disebut sebagai Negeri Latuhalat. Raja Latuhalat selanjutnya menggunakan nama sebenarnya, Salhuteru dalam menjalankan pemerintahannya. Raja pertama di negeri Latuhalat adalah Pautuselang Salhuteru kemudian diganti oleh putranya Pattikiring Salhuteru. Selanjutnya Raja yang ketiga adalah Latumanona Salhuteru. Dalam masa pemerintahannya, Salhuteru dibantu oleh dewan saniri negeri.

      SEJARAH MATA RUMAH TUHUSULA di SOAPAPALA (Waimahu)

      Dusun soapapala (Sekarang : Waimahu-Latuhalat) telah datang seorang kapitan Seram dari Luhu, Hoamual yang menurunkan matarumah Risakotta ( = Kota permusuhan ) dan seorang kapitan lain dari kepulauan Sula di Maluku Utara sehingga dijuluki Tuhusula. Kapitan Tuhusula berlayar dengan menggunakan sehelai daun pandan/keker dan singgah di pulau Manipa. Di tempat ini, kapitan Tuhusula mencari ikan sebagai bekal dalam perjalanan dan menemukan sejenis ikan bernama Sapalewani. Kapitan Tuhusula kemudian membuat sebuah perahu yang tiang dan layarnya terbuat dari kayu rina dan daun bira ( sebutan untuk kayu dan daun pohon keker) dan berlayar ke Soapapala tepatnya di sebuah labuhan bernama Umeten ( = Pantai hitam ). Di tempat inilah pohon keker yang digunakan oleh kapitan Tuhusula untuk membuat perahu tumbuh di labuhan ini. Akibat peristiwa ini, maka ikan Sapalewani dan pohon keker dianggap sebagai pantangan/posso bagi matarumah Tuhusula. Pantai Umeten terletak dekat ujung Tanjung Nusaniwe sehingga kapitan ini dipercayakan sebagai Tuan Tanjung Nusaniwe hingga saat ini.

      (diambil dari buku  "Hikayat Negeri Latuhalat" Ferymon Mahulette)