Kamis, 26 Agustus 2010

Kebenaran Sejarah Nunusaku

Nunu Saku di maksudkan Pohon Beringin ( Buyan Tres ) . Tetapi Nunu Saku sesuai penjelasan tradisionil lebih menyerupai pohon popythea seperti jenis yang di gambarkan oleh A.R Wallace ( Malay Archipelago 1869.p.64).

”Nunu Saku ” terbentuk dari tiga kumpulan akar yang berpijak pada tepi sebuah danau; pohon bertumbuh menutupi danau. Dari tempat dimana akar akar-akar memusat menjadi satu, keluarlah air yang mengisi danau ( Waele Butui – Air dari alat kelamin laki-laki). Air dalam danau disebut : Nunu Wae Sane = satu satu air suci yang kudus yang hidup dan yang abadi. Dari danai ini air menghilang kedalam bumi dan melalui terowong didalam tanah muncul kembali sebagai mata air pada bagian hulu ketiga batang air, dan melalui ketiga batang air Eti – Tala – Sopalewa di antarnya air turun kemuara.

Pada awalya Kapua Upu ila Kahuresi menciptakan alam semesta ( ASA ) menampilkan Bapak Matahari = Upu Tahola; ibu Bumi : Upu yama ese dan pengawalnya bumi : upu ila kae = Bulan.
Selama pertumbuhan mereka dari masa kanak-kanak hingga dewasa, terjadilah bahwa sang bapa matahari menaruh hati pada ibu bumi dan sebaliknya; maka ketika sinar pertama dari bapa matahari menyentuh ibu bumi, Hamilah ibu bumi sembilan zaman lamanya sesudah genap waktunya lahirlah : ” Alif Uru ” = Manusia Awal.!

”TEMPAT KELAHIRAN TERSEBUT ADALAH NUNU SAKU ” Alif Uru minum dari air dan makan dari daun dan buah yang bertumbuh pada pohon yang suci kudus itu. Berikutnya bertambah banyaklah manusia awal ( wanita pertama keluar dari pohon pisang dan bambu). kemudian mereka diawali oleh empat kepala; tiga diantaranya melambangkan masing-masing : Nafsu, Jiwa, rasa dan ratio di dalam manusia yang saling bertentangan yang satu terhadap yang lain dan sebaliknya.
Ai Ukene (Lisabata)
  1. Latu teru ijele hena ponie = Betul di negeri dulu ada tiga raja
  2. Si Ambamuwe nunu jela lehui = Semua keluar di baringin besar
  3. Ni sama ini waele senu waele = ini air besar semua sama saja
  4. Si amanu pakea ni pakeana = Kasih hanyut ini pakaian- pakaian
  5. Ama kai latu uhu inai = Nanti saja harus naik jadi raja
  6. Sine Nua latu nuhu selane = Dua raja ini punya kuasa sama
  7. Nuhu selane nete naru penusi = Kuasanya sama tetapi hatinya tidak betul
  8. Si manahu mambuasa = Lain kasih jatuh lain
  9. Lembea one Welea = Adu kekuatan di dalam air
Karena faktanya ketiga latu tidak mampu hidup bersama secararukun dan harmonis, maka dengan demikian mereka telah melanggar hukum : ” Persekutuan Awal ” yang telah ditegakkan oleh moyang moyang mereka sebagai : hukum ” Sirih Pinang ” ( Sirih, kapur, pinang, tembakau, dan cengkeh ).
Hukum yang telah diatur dalam persekutuan ini ialah : ” Kita semua satu dari satu tubuh dengan ” Kapua Upu Ila Kahuressi ” sebagai kepala dan ” totalitas” Maka kepala yang keempat yang melambangkan ” Kuasa Roh ” dalam manusia memerintahkan ketiga kepala untuk pergi dari lokasi Nunu Saku dan menjelajah bumi, Masing-masing mereka dengan kelompok yang berada di bawah pimpinan mereka. Dijanjikan kepada mereka bahwa Kapitan Besar akanmengatar mereka kembali untuk memperbaharui persekutuan awal; Menegakkan kembali hukum ” Sirih Pinang ” dan menyatukan mereka kembali ketiga Latu kembali ke gunung Fah ( di Ulate Inai ) untuk memperbaharui persekutuan awal karena Uru telah melupakannya, Maka sejak itu mereka di berikan nama ” Hara Fah Uru ” atau ” Harafuru ” yang arinya : URU DARI GUNUNG FAH. ( seperti zaman sekarang jelas masih dalam Peta laut harafuru atau di sebut arafuru atau laut alifuru atau Laut Arafuru ).
  1. AI UKENE ( Nomali = Huelehu) = (Pesan) Ama – Ina untuk uru didalam ini ( Bomali- Nuwelehu)
  2. Manu Tula potike sapalene = Roh dari langit diraih oleh upu yang datang bertemu dengan kau dialam ini
  3. Rutu keku Nunusaku retui = Uru kalau dinunusaku baiknya pakai rutu-rutu
  4. Kaha ketu waele teru, waele = Pergilah sampai keatas sampai keair besar – Tiga air besar
  5. Sapawela surikamba-lesi = Sapawela yang menyapu bersih pada pandangan pertama seperti uli mengamati dan membela
  6. Waele eti moni tihu mitene = Air besar eti bagaikan imam besar yang menegakkan hukum
  7. Waele tala tahi sane samane = Air besar tala yang menghasilkan satu tubuh yang kekal dan paling berharga
  8. Runa essi patia teru, one walea joo! = Anak uru kuasa terbagi tiga langgar air yoo!
  9. Runa essi latua teru = Anak uru kuasa dari Allah tua benar tiga.
Kemudian persekutuan ditegakkan kembali ” Sesudah mana kembali mereka turun lewat batang – batang air kini sebagai manusia dari gunung Fah untuk melaksanakan Hukum : Heka – Leka sampai Kapitan Besar Riri Ama ( Bapa Hakim ) mengantar mereka kembali ke Nunu Saku untuk selama-lamanya.
  1. Turu lau haha ika kau e yami = itu orang jauh didaratan tinggi seperti kita juga
  2. Hale nusa opono lease e yami = kita semua disebelahnya pulau ambon dan lease
  3. Uling enye liasa manima = Satu kali potong tali putus ( dan ) gasepa terguling lepas
  4. Nasi totol lema urie = Bermain hanyut menyesakkan nafas
  5. Biang huta kamu kamu mouputi = Biang kamu kamu (menutup) permukaan dan tubuh. Menjadikan kita putih( agar tidak terlihat oleh orang lain)
  6. Riri ama tutu hena sepa o = riri ama tegakan negeri asli o!
  7. Riri ama kwae hena sepa o = riri ama cari negeri asli o
Demikian Nunu Saku adalah tempat dari pada awal kemana URU di dalam alam semesta akan di hentar kembali setelah dia memenuhi hukum ” Leka ” dan dipesankan bahwa hanya URU yang telah dilahirkan Baru ” LEKA ” – URU yang telah menyatu dengan alam semesta dapat menemui dan melihat NUNUSAKU
Nunu Saku = Unu Nusa Asa Ku = Bagian pulau dimana ku menjadi satu dengan Asa yang tunggal.
” KERANGKA DASAR SIWA-LIMA “
URU LELAKI DAN MATAHARI TERBIT
Supaya lebih dekat pada POLA PEMIKIRAN SIWA LIMA pendekatan ini mengusahaakan mengikuti jejak-jejak para pemburu Pola Dasar Siwa Lima milik mereka sendiri, ditegaskan demikian oleh salah satu dari pada yang memangkunya. Totalitas berasal dan menyeluruh ASA secara fungsionil di divensiasikan serta bertumbuh di dalam diversifikasi menuju sublemasi kembali ke asal, dengan integrasi sebagai suatu konstant.
Kerangka dasar SIWA LIMA sebagaimana dikatakan sebagai Multi Dimensional Spiritual, Mental maupun Pisikal. Pengertian dari pada totalitas Sangatlah berharga sebagai suatu konsep fundamental. Manusia ( Tubuh) adalah model (Kerangka Dasar) untuk totalitas, akana tetapi juga untuk pembidangan diferensiasi dan difersifikasi fungsional yang mengikuti suatu peraturan khusus. Urutan ini tidak hirarki tetapi terikat pada senioritas ( Ketuaan ) dari pada lambag yang diwakili setiap pembidanan/diferensiasi.

Keempat dasar fungsi utama adalah symetrical serta menyatu kembali bersama kedalam totalitas.
Andaikata di bandingkan pendekatan ini di dalam bahasa cinematografi, maka subjek tersebut dipandang terlebih dahulu dari pada sudut lebar. Berikut dari urutan peneropongan “ Close “. Close up ini mengikuti urutan simbolik dari pada senioritas setiap masalah bersangkutan ( seperti akan di ekspose : urutan senioritas ini adalah variabel).
Mitos menempatkan asal dari pada manusia sebagai pola pemikiran di pusat pegunungan di tengah dan bagian barat dari pulau Seram di Maluku Tengah.
Selama berabad abad mereka meluas dan menempatkan dirinya di pulau pulau sekitar : Buano, Kelang, Manipa, Buru, Ambon dan Uliase ( Haruku, Saparua, Nusalaut )dimana mereka masih menetap sampai dengan sekarang ini.
Sesuai sejarah setempat, generasi-generasi yang mengatur migrasi tersebut telah berlangsung sejak 3000 tahun sebelum masehi.

(Di ambil dari buku "URU SON OF THE SUNRISE")  Fric University of Brussels, tahun 1984.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar